AlManarNews.ID | Proyek Biogas Komunal yang dibangun Kementerian ESDM di Pesantren Modern Teungku Chik Oemar Diyan, Gampong Krueng Lamkareung, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Sabtu (16/12) mulai beroperasi setelah diresmikan Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBKTE), Drs Sudjoko Harsono A MM.

Proyek biogas komunal dari kotoran manusia itu dibangun pada Maret 2016 lalu melalui sumber dana APBN Kementerian ESDM senilai Rp 1,1 miliar. “Ini merupakan proyek percontohan untuk Aceh, guna dikembangkan di pondok-pondok pesantren yang memiliki jumlah santri cukup banyak,” kata Sudjoko, dalam sambutannya pada peresmian proyek biogas komunal tersebut.

Teknologi yang digunakan dalam pelaksanaan proyek biogas komunal dari kotoran manusia itu, kata Sudjoko, sangat sederhana, tapi hasilnya sangat ekonomis dan efektif. “Caranya bangun toilet/wc leter U, dengan ukuran tiap wc 1×2 meter, selanjutnya bangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Tempatkan dua digester biogas tife fixed dome, berukuran masing-masing 12 meter kubik, setelah toilet/wcnya dipakai, bisa menghasilkan tenaga biogas komunal untuk empat kompor gas dan dua lampu gas,” ujarnya.

Sudjoko mengatakan, proyek biogas komunal dari kotoran manusia yang dibangun di pesantren ini bisa menjadi contoh bagi pesantren-pesantren lain yang punya santri banyak. Proyekbiogas komunal itu dibangun dekat dengan gedung asrama santri putri dan dapur umum pesantren.

Kotoran limbah manusia dialirkan dan masuk ke bak besar dalam tanah yang terhubung dengan tangki digester biogas, tempat penyimpan gas metan yang dihasilkan dari dalam bak kotoran. Gas metan yang terdapat dalam tanki digester kemudian dialirkan melalui pipa dan dihubungan dengan kompor biogas. “Kalau santri ingin masak dan menghidupkan kompor biogas, buka kran kompornya, dan pancing dengan korek api, kompor biogas langsung mengeluarkan api berwarna biru dan ke merah-merahan,” papar Sudjoko.

Sementara itu, pimpinan Pesantren Moderen Teungku Chik Oemar Diyan, Fakhruddin Lahmuddin, mengatakan, proyek biogas komunal yang dibangun Kementerian ESDM di pesantren itu sangat membantu kelancaran pelaksanaan operasional pesantren, terutama dalam menciptakan toilet/wc yang bersih dan sehat serta menghasilkan sumber energi baru terbarukan dan tanpa biaya.

Proyek itu, menurut Fakhruddin, tidak hanya menciptakan toilet/wc pesantren yang selalu besih dan rapi, tapi juga meringankan beban biaya operasi pesantren, terutama dalam pembelian bahan bakar gas untuk masak makanan santri di dapur umum.

Asisten II Setda Aceh, dr Taqwallah, yang hadir pada acara peresmian proyek biogas komunal tersebut mengatakan, proyek ini patut menjadi contoh bagi pelaksanaan proyek-proyek sumber energi terbarukan yang akan diprogramkan Dinas ESDM Aceh.

Setelah pihak Kementerian berhasil membuat proyek biogas komunal yang berasal dari kotoran manusia itu, kata Taqwallah, Dinas ESDM bisa mengusulkan program tersebut untuk pondok-pondok pesantren yang memiliki santri antara 500-1.000 orang.

Sebagai pilot project kedua, kata Taqwallah, sebagaimana diminta dan diharapkan pengurus pondok pesantren, proyek yang sama bisa dibangun di dekat asrama santri pria, yang jumlah santri prianya tidak kalah jumlah.

Menanggapi saran dari Asisten II Setda Aceh, Kepala Dinas ESDM Aceh, Akmal Husen, mengatakan, pihaknya akan mencoba mengusulkan program proyek biogas komunal itu, melalaui usulan proyek reguler dinasnya maupun usulan aspirasi anggota Dewan.

Setiap tahun, kata Akmal Husen, anggota Dewan, sebelum penyusan dokumen KUA dan PPAS, sering melakukan reses ke daerah pemilihannya. Setelah reses, mereka banyak menerima usulan program dan kegiatan dari daerah pemilihan, maka salah satu program yang bisa diusulkan anggota DPRA adalah proyek biogas komunal.

Tinggalkan Komentar

Mohon masukkah komentar kamu
Masukkan nama kamu