Dedy Irwanda, Dari Negeri Satu Menara Sampai Ke Ankara

0
145
Dedy Irwanda, Dari Negeri Satu Menara Sampai Ke Ankara

Al-ManarNews.ID | “Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dapatlah dia”. İtulah adalah sebuah kata-kata yang selalu saya tanamkan dalam setiap pekerjaan saya, singkat nan mendalam. Kata-kata yang singkat tapi akan sangat mendalam jika dihayati. Kata-kata yang selalu saya ucap dan hafal di setiap benak perbuatan saya dalam perjalanan menuju puncak keberhasilan.

Saya adalah lulusan Pesantren Modern Al-Manar, yang teman-teman alumni sering menyebut dengan “ Negeri Satu Menara”, karena menara “ Bungong Jeumpa” menjadi simbol pesantren kami, sebuah lembaga pendidikan islam terletak di Desa Lampermai, Cot Irie, Kecamatan krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar. İnstitusi yang menggabungkan ilmu sains dan agama dalam kurikulumnya tersebut merupakan tempat para cendikiawan dan para pemimpin masa depan Aceh bahkan dunia dilahirkan dan dibentuk.

Saya adalah alumni angkatan ke-VI Al-Manar yang sekarang sedang melanjutkan program studi nya di salah satu kampus terbaik di Turki, Gazi Universitesi,Ankara. Terdapat banyak mahasiswa/i indonesia di Ankara. danbukan hal mudah bagi seorang lulusan pesantren bisa bersaing dengan lulusan dari sekolah internasional lainnya di sana.
Butuh kerja keras dan kesabaran yang tinggi untuk bisa mencapai itu semua. Jam belajar yang extra, mata kuliah yang padat, kultur,makanan,bahasa yang berbeda serta mengurusi kebutuhan sendiri merupakan hal yang tersulit yang harus di handle oleh seorang mahasiswa/i luar negeri.

dedyirwanda.jpg
Seiring perjalanan waktu ada beberapa mahasiswa/i yang gugur di tengah perjalanan menuju keberhasilan.Tapi itu adalah sebuah simphoni perjalan yang sama yang pernah saya alami ketika saya menuntut ilmu di Al-Manar. Didikan selama 6 tahun Al-Manar menjadikan saya seorang mahasiswa kuat dalam menghadapi badai cobaan dan tantangan.

Pasantren yang selalu mengedepankan pembentukan budi pekerti dan semangat pantang menyerah merupakan philosophi saya dalam mengarugi segala permasalah yang datang. Didikan pantang menyerah selalu pesantren tunjukkan kepada santri nya dalam segala bentuk kehidupan. Pantang menyerah dalam mengikuti proses dan tahap pendidikan dari kelas satu sampai enam, pantang menyerah dalam mengikuti segala norma-norma dan aturan pesantren serta pantang menyerah dalam mengikuti segala aktivitas dan perlombaan baik dalam dan luar pesantren merupakan sedikit dari banyak nyan prinsip pantang menyerah yang pesantren ajarkan.

Disinilah mental santri di bentuk, khususnya saya. Bermodalkan prinsip “barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka dapatlah dia”, maka tak ada badai yang tak bisa saya lalui. Tak ada jalan terjal dan berbatu yang tak bisa dilalui. Selalu ada jalan dan masa depan yang akan menanti.

20638965_1053854041384424_3725359797934628824_n
Dari Al-Manar saya belajar arti kehidupan, belajar tentang persahabatan dan belajar tentang kepemimpinan. Didikan dalam berorganisasi ketika di Al-Manar dulu menghantarkan saya menjadi ketua Organisasi Mahasiswa dan Masyarakat (IKAMAT) Aceh di Turki. Tidak hanya sampai di situ, saya juga menjadi perwakilan persatuan pelajar Turki di bidang hubungan international bersama teman-teman pelajar seluruh dunia (PPI DUNIA) lainnya.

Maka tak ayal bagi saya, kehidupan di luar negeri di ibukota Turki, Ankara, merupakan kamuflase dari kehidupan saya ketika berjuang di pesantren Al-Manar dulunya.
Kepada santri-santriwan/i Al-Manar, tetap semangat, kukuhkan niatmu dalam perjuangan. Tidak ada jalan yang sulit yang tidak bisa dilewati, itu semuanya adalah akal yang lemah dan prinsip yang rapuh,yang menghentikan langkahmu. Bersabar,doa,tawakkal dan pantang mengeluh adalah kunci jalan keberhasilan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here